MANA YANG HARUS KU DENGAR?
Oleh Wenny Rosalia Kusumawardani
Makin hari rasanya kita makin jauh saja dengan apa yang di katakan oleh hati
Makin hari rasanya kita lebih mendengarkan apa yang diucapkan orang lain kepada kita…dan pada akhirnya tak mengindahkan lagi kata hati
Makin hari rasanya kita lebih mengindahkan yang namanya norma-norma dan peraturan di masyarakat…dan pada akhirnya tak mendengarkan lagi kata hati
Apakah dengan ini kata hati lebih buruk daripada apa yang dikatakan orang lain dan yang tertulis dalam norma masyarakat?
Apakah kata hati sudah tidak layak lagi untuk diindahkan lagi untuk menuntun tingkah laku, sikap, prinsip hidup, pendapat, ide kita?
Dilema yang dirasa ketika kita lebih mengikuti kata hati..
Kita dianggap orang yang keras kepala tidak mau mendengar pendapat orang lain
Kita dianggap orang yang apatis dan bahkan kaum pemberontak norma masyarakat
Hah…kapan sebuah kata hati akan dianggap?
Bukankan kata orang lain pun belum tentu benar?
Bukankan kata orang lain belum tentu berlaku untuk kita juga?
Bukankan norma masyarakat pun sebenarnya berakar dari kata hati setiap orang yang menjadi kesepakatan?
Namun bukankah masih ada kemungkinan sebuah norma perlu ditinjau lagi…
Masih ingat kata-kata rekan sejawat…
Jika sebuah peraturan/norma tidak membawa kita pada sebuah perbaikan/perkembangan namun malah membawa kita kepada kemunduran/kesengsaraan maka norma/peraturan perlu ditinjau ulang…
Lalu jika Kata orang lain dan norma pun tidak selalu benar, mana yang harus kita ikuti?
Namun yang harus dijawab lebih dulu adalah…
Darimana sebenarnya asal kata hati?
Apakah kata hati yang kita rasa biasanya adalah benar-benar yang dimaksud dengan kata hati sebenarnya?
Jangan-jangan itu hanya sebuah pelampiasan ego dari kita manusia yang terbungkus rapi dengan dalih kata hati?
Mana yang harus ku dengar Teman….?
25012011
25012011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar