URIP MUNG MAMPIR NGOMBE
Sebuah Dilema Seorang Manusia dalam Menikmati Air Kebahagiaan
Oleh Wenny Rosalia Kusumawardani
Pernahkah Anda mendengar wejangan dari orang tua kita urip ing donya iku mung mampir ngombe (Hidup di dunia ini seperti orang yang mampir untuk minum). Mengapa ada falsafah Jawa yang mengatakan demikian? Jawabannya karena hidup kita ini bisa dikatakan singkat, jawaban yang klise namun benar apa adanya.
Kita tak kan pernah tahu kapan kita akan tutup usia. Saya yakin anda sekalian pernah mendapat kabar duka (kematian.red) yang tiba-tiba dan tak pernah menyangka hal tersebut akan terjadi. Dan tak akan ada yang menyangka pula, bahkan diri kita sekalipun, kapan kematian akan menghampiri kita. Tak ada yang bisa memastikannya, paranormal sehebat apapun tak kan sanggup melakukan ini. Sekali lagi dikatakan singkat karena kita tidak tahu kapan kita akan mengalami kematian itu. Itu yang membuat waktu kita terbatasi dan serasa singkat.
Lalu apa maksud dari wejangan tersebut? Sebenar-benarnya kalau kita mau mencerna sedalam-dalamnya kata-kata tersebut, ada hal tersembunyi selain hanya mengingatkan bahwa deadline kita hidup itu singkat. Tak lain adalah apa yang bisa kita lakukan dalam hidup kita yang singkat ini.
Dalam hidup pasti ada pilihan. Begitu pun apa yang akan kita lakukan dalam hidup kita pun kembali pada pilihan kita masing-masing. Pasti akan banyak versi jawaban yang terlontar. Ada yang mungkin menjawab ”Saya ingin meraih semua impian-impian saya, pangkat tinggi, ekonomi berkelimpahan, banyak anak, mobil mewah, rumah besar...” Atau ada yang dengan yakinnya mengatakan ”Hidup saya mengalir saja seperti aliran air”
Anggap saja jawaban itu terbagi menjadi dua pihak. Pasti kedua pihak itu akan saling menyalahkan dan menilai hidupnya satu sama lain. Inilah yang ada akhirnya menimbulkan sebuah dilema bagi seorang manusia dalam rangka mengisi hidupnya.
Kita tak bisa menyalahkan kedua pernyataan di atas. Karena kedua pernyataan tak ada yang benar maupun yang salah. Semua berawal dari sudut pandang kita masing-masing. Bisa saja orang akan mengambil sisi negatif dari pernyataan pertama dengan mengatakan, hidup penuh ambisi dan terlalu ngoyo. Demikian juga pernyataan kedua sisi negatifnya bisa dikatakan sebagai hidup yang tak bertujuan dan tidak ada arahnya. Sekali lagi semua kembali kepada diri kita masing-masing. Kita semua berhak atas hidup kita masing-masing, dan tak ada yang berhak mengaturnya, kecuali Sang Khalik Sang Pemberi Hidup.
Lalu apa yang harus kita lakukan dengan hidup kita jika tidak ada yang benar dan salah? Yang bisa menghantarkan kita pada jawaban tersebut adalah dengan menjawab pertanyaan berikutnya, yaitu ”apa yang sebenarnya kita cari dan ingin rasakan dalam hidup?”
Pasti akan kembali banyak versi jawaban. Namun saya yakin tak ada yang tak menginginkan satu hal ini. Ya BAHAGIA. Apa pun yang diinginkan pasti ujung-ujungnya karena ingin bahagia. Inilah hal yang paling hakiki di cari manusia. Namun cara minum dan jenis minumanya yang berbeda-beda setiap orang. Percayalah tak ada rumus yang pasti untuk menjadikan diri Anda bisa mengecap air kebahagiaan.
Dan jika diri Anda merasa pernyataan pertama atau kedua yang paling mendekati diri Anda, itu sah-sah saja. Asalkan air kebahagian itulah yang akan Anda nikmati pada akhirnya.
Carilah bahagia itu dengan jalan Anda masing-masing. Karena ini hidup Anda, maka Anda pulalah yang mengatur strateginya dan apa yang ingin Anda minum. Jangan pernah bimbang untuk mencari kebahagiaan versi Anda. Terlalu lama Anda menimbang, makin singkat waktu Anda untuk minum air kebahagiaan. Dan belum tentu cara minum dan jenis minuman orang lain bisa kita terapkan untuk diri kita, karena lidah kita pun berbeda.
Akhir dari tulisan ini pun pada akhirnya akan mengajak Anda berpikir kembali. Sudahkah Anda menikmati Air kebahagiaan dalam hidup Anda?
28032011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar