Kamis, 23 Agustus 2012

Zona Nyaman Gambaran Kedewasaan Kita

     Usia 25 tahun kata orang memang usia yang istimewa. Karena di usia tersebut seseorang bisa dikatakan memasuki fase dewasa, dan meninggalkan fase usia remaja dan kanak-kanak yang terlah dilewati sebelumnya. Mau tidak mau tuntutan dalam hal mental dan ke"dewasa"an yang sebenarnya diharapkan mulai ditunjukkan oleh seseorang yang telah menginjak usia matang tersebut. Perubahan terutama dalam perkembangan psikologis inilah yang tidak setiap dari kita mampu memaksimalkannya. Dan ini mengingatkan saya pada prinsip umum yang mungkin sering Anda dengar pula bahwa "kedewasaan" seseorang bukan tergantung dari berapa usianya.
     Perubahan pasti akan kita rasakan dan hal tersebut tidak akan pernah dapat kita hindari.Masing-masing dari kita pasti bisa menyadari banyak hal yang berubah dari diri kita ketika kita masih kanak-kanak hingga kita menapaki masa dewasa saat ini. Dan bagi saya, bagaimana menyikapi sebuah perubahan yang terjadi diluar kehendak kita atau bahkan terkadang perubahan yang "terpaksa kita ciptakan" sendiri dalam kehidupan kitalah yang pada akhirnya akan menempa kedewasaan seseorang.
     Sebuah keputusan besar mungkin memang telah saya buat di usia 25 dan perubahan besar memang saya alami saat ini. Tepat di usia 25 tahun saya membuat keputusan untuk resign dari tempat kerja saya. Dan keputusan ini berimbas pula pada aspek kehidupan saya lainnya, bahkan orang-orang disekitar saya. Berawal dari keputusan saya untuk menjajaki keseriusan komitmen saya untuk masa depan bersama pasangan, yang menjadi pertimbangan saya untuk pamit dari salah satu Sekolah Katolik si Surabaya. Padahal di sekolah tersebut banyak hal saya dapatkan, terutama dalam pengembangan skill dan pengetahuan untuk mejadi seorang pendidik bagi generasi muda. Dan selama tiga tahun tersebutlah saya memantapkan panggilan saya sebagai seorang pendidik. Layaknya orang yang susah payah untuk melupakan cinta pertamanya, sama susahnya pula bagi saya harus meninggalkan semua kenangan suka duka di tempat kerja saya yang pertama ini.
     Banyak reaksi yang datang dari orang-orang disekitar saya, ada yang pro dan kontra dengan keputusan saya. Bahkan di awal-awal kedua orang tua saya sempat meragukan rencana saya, dan yang paling menolak adalah kakek saya yang dulunya memang pensiunan guru dari sekolah tersebut. Pertimbangan image dari sekolah tempat saya mengajar dulu, dimana merupakan sekolah unggulan di Surabaya dan bagaimana saya sudah merintis karir di sekolah tersebut, dan berbagai pertimbangan lain yang banyak diutarakan oleh orang-orang yang kontra dengan keputusan saya ini, dan jujur beberapa kali sempat menggoyangkan keputusan saya. Pada intinya adalah mereka sangat menyayangkan kenyamanan yang mereka lihat dalam diri saya ketika bekerja di institusi tersebut. 
     Bahkan tidak berhenti sampai disitu, ketika saya telah resmi pamit (3 bulan sebelum surat kontak habis.red), respon berbagai teman sejawat yang kaget akan keputusan saya ini sempat membuat saya ragu pula, apakah saya telah mengambil keputusan yang benar. Dan pada akhirnya saya terbayang hal-hal negatif yang akan terjadi. Dan ketika sampai di hari pisah kenal dengan guru-guru yang purna tugas, saya hanya bisa berdoa dalam hati semoga keputusan yang saya ambil sesuai dengan kehendak Tuhan dan menjadi yang terbaik bagi saya.
     Selain tempat kerja yang baru, lingkungan tempat tinggal pun pada akhirnya harus menyesuaikan. Sehingga mau tidak mau, saya harus meninggalkan kos yang telah saya tempati selama 7 tahun, terhitung sejak saya awal di Surabaya untuk menuntut ilmu. Bukan suatu hal yang mudah lagi yang harus saya lakukan. Orang-orang yang sudah saya anggap sebagai saudara sendiri, mau tidak mau harus mengucapkan salam perpisahan dengan mereka. Lingkungan sekitar yang sudah saya kenal betul (terutama daerah kuliner hehehe) pun juga harus saya tinggalkan dan berganti dengan orang dan lingkungan yang asing bagi saya.
     Saat ini saya telah menjalani kurang lebih dua bulan di sekolah yang baru. Memang banyak perbedaan yang terjadi. Saya harus "memaksa" diri  untuk bisa beradaptasi dengan sekolah baru, terutama dengan karakter para siswa yang menjadi teman dalam karya saya kedepannya yang memang berbeda dengan sekolah sebelumnya.


     Saya tahu bahwa setiap keputusan pasti ada konsekuensi yang harus kita jalani. Namun satu hal di sini yang saya sadari dan ingin saya bagikan adalah terkadang perubahan yang terjadi dalam hidup kita akan memaksa diri kita untuk meninggalkan yang namanya comfort zone. Mungkin pernah kita dengar cerita dari orang-orang disekitar kita orang yang dulunya mempunyai kondisi ekonomi yang baik, tiba-tiba usahanya bangkrut dan terganjal hutang akhirnya hidup kekurangan dimana dia mau tidak mau harus meninggalkan kebiasaan lama hidup mewah dan hidup miskin. 
     Dan yang kedua adalah, ketika kita mengalami stagnan dan saat itu kita ingin berkembang maka kita harus berani meninggalkan zona nyaman yang telah kita rasakan. Dan ini berarti kenyamanan yang kita rasakan, tidak akan selalu baik untuk diri kita. Weww.... saat pertama saya membaca pertama kali pernyataan tersebut, saya hanya menganggap angin lalu saja, karena pernyataan yang terakhir ini sangat sulit dilakukan, karena kita hidup apalagi kalau bukan mencari sebuah "kenyamanan" dalam hidup.
     Ada sebuah cerita fabel yang pernah saya dengar ketika zaman kuliah. Dalam seminar tersebut salah seorang narasumber menceritakan ada seeokor anak elang yang dipelihara oleh induk ayam, dan suatu hari dia terkagum-kagum oleh seekor elang yang bisa terbang tinggi di angkasa. Ketika dia bertanya pada induk yang merawatnya apakah dia bisa belajar terbang seperti elang, induknya berkata apa yang dia cari lagi karena dia sudah memiliki segalanya saat ini. Dengan pertimbangan induknya dimana dia sudah mempunyai keluarga induk ayam yang sangat baik, sangkar yang hangat dengan makanan yang cukup tersedia yang membuat anak elang tersebut mengurungkan niatnya untuk belajar terbang seperti elang dan akhirnya si anak elang ini tidak akan pernah mengetahui jati dirinya yang sebenarnya sebagai seekor elang.
     Dan ketika masa masa berat meninggalkan teman lama dan tempat lama, saya kembali teringat cerita tersebut, dan baru menyadari terkadang perubahan itu harus tercipta untuk membuat diri kita bisa lebih berkembang, dan berkembang lagi, dan saya baru menyadari kebenaran dari kedua pernyataan sebelumnya. Dan memang benar ketika kita dihadapkan pada situasi, dimana kita harus meninggalkan zona nyaman yang telah kita rasakan, sebenarnya disitulah ada harapan untuk kita bisa lebih berkembang dan berkembang lagi.
     Namun tergantung dan kembali pada diri kita masing-masing bagaimana menyikapi perubahan yang ada, baik itu perubahan yang sebenarnya tidak ingin kita alami atau perubahan yang sengaja kita ciptakan. Apakah kita menjadi seekor anak elang tadi yang enggan membuat perubahan padahal ada kesempatan yang lebih baik, atau pilihan selanjutnya mau mengambil kesempatan keluar dari kenangan lama dan mengukir kenangan baru dengan "prestasi diri" yang jauh lebih baik daripada yang sebelumnya.
     Sejauh kita merasa tidak berkembang dari hari ke hari, tidak ada salahnya untuk kita benar-benar mengambil kesempatan belajar terbang seperti keinginan anak elang dalam cerita di atas. Itulah yang saat ini terus menerus saya coba tanamkan dalam diri saya. Saya berharap dengan keputusan saya ini pada akhirnya benar-benar bisa membuat diri saya lebih baik dan berkembang lagi, terutama semakin baik dalam peran saya sebagai seorang pendamping bagi anak didik saya. Lalu bagaimana dengan Anda? Kedewasaan kita teruji disini....Tuhan Memberkati.

Selasa, 14 Agustus 2012

MERENCANAKAN STUDI = MERENCANAKAN MASA DEPAN

Dalam mencapai impian pasti ada proses yang harus kita lalui, tidaklah instan prosesnya sampai akhirnya kita dapat meraihnya. Berprinsip pada istilah hard to get effect, dimana sesuatu yang akan kita dapat dengan susah payah akan lebih baik dan lebih lama efeknya, siswa diberikan penyadaran diri bahwa untuk mecapai impian mereka 10-15 th kedepan (Lulus Kuliah, Kerja dan Membina rumah tangga sekalipun) mereka harus mempersiapkannya mulai dari sekarang.
Posisi mereka saat ini berada di kelas XI sehingga banyak waktu yang bisa dimanfaatkan untuk merencanakan masa depan mereka, salah satu perencanaan terdekat mereka adalah mengenai rencana studi mereka. Selanjutnya siswa diminta untuk menuliskan target dan komitmen dalam rencana studi mereka selama kelas XI. Harapannya dengan diberikan informasi mengenai rencana studi, mereka akan semakin fokus dalam belajar karena sudah ada target yang memberikan arah yang jelas. Layaknya seorang pemain sepak bola yang tahu kemana gawang lawan, maka kesanalah mereka mengarahkan tendangan bola mereka. 
Selamat Membaca dengan klik alamat ini http://www.slideshare.net/wenny_gemini_18/merencanakan-study-merencanakan-masa-depanku-13974633
 MOTIVASI DALAM IMPIANKU

Sebagai seseorang yang matang dalam mengambil sebuah keputusan, ketika kita memutuskan sesuatu tidak hanya karena like atau dislike, namun harus ada pertimbangan yang matang. Begitu pula untuk para siswa kelas XI ini ketika masuk jurusan di SMA. Mereka harus tau apa yang menjadi pendorong mereka untuk memilih dan menjalani jurusan mereka saat ini baik IPA/IPS/Bahasa dengan segala konsekuansinya masing-masing. Karena jika mereka tidak memiliki motivasi yang "benar", dimana mungkin hanya karena masalah gengsi atau hanya sekedar ikut-ikutan teman, ketika mereka mengalami kesulitan mereka akan merasa semakin berat untuk melewatinya. Disini sejak awal siswa diberikan kesadaran diri ada konsekuensi pula yang harus mereka jalani dalam setiap pilihan mereka. 

Dalam pertemuan kali ini juga diberikan informasi mengenai hal-hal yang menyebabkan motivasi seseorang menurun dan juga tips bagaimana cara untuk memotivasi diri kembali...Selamat Membaca dengan klik halaman berikut.... http://www.slideshare.net/wenny_gemini_18/m-o-t-i-v-a-s-i

TUHAN MEMBERKATI :)

Rabu, 18 Mei 2011

APA KATA DUNIA?!
Oleh Wenny Rosalia Kusumawardani

        Ada hal yang tiba-tiba menggelitik saya. Padahal berulang kali sebenarnya saya menemukan kejadian semacam ini, namun kejadian malam ini entah kenapa membuat saya penasaran. Awal cerita saya memutuskan untuk segera menyudahi pertumpahan darah untuk rambut saya dan memotongnya di sebuah salon langganan di Surabaya. Dan si empunya salon adalah seorang laki-laki, karena salon tersebut kebetulan menerima untuk klien pria dan wanita.
Bukan pemandangan yang aneh, karena sebenarnya saat ini saat jamannya ”emansipasi pria” (istilah saya sendiri menyaingi istilah emansipasi wanita.red), di mana di wilayah yang notabene lebih dekat dengan dunia wanita, saat ini di warnai oleh kaum adam. Sebut saja seperti misalnya hairdresser, koki, taylor dan masih banyak lagi, yang ternyata dalam profesinya mereka tidak kalah canggih dengan kaum hawa.
Dan tak tertahankan rasa penasaran ini, hingga akhirnya keluarlah pertanyaan yang tertuju pada salah seorang pria berumur 25an yang saat itu sedang melayani dengan saya.
Mas dah lama kerja di sini? Gak malu ta kerja di salon? Salon bukan tempat yang pas untuk cowok kan”.
Takut menyinggung saya tak lupa mengucapkan maaf kepadanya. Dan di luar dugaan dia malah tersenyum dan dengan entengnya menjawab..
Walah Mbak yang penting kerja halal, ndak menyalahi aturan, saya gak nyuri, saya ya bener-bener kerja di sini, lagian saya senang dengan pekerjaan ini, lalu buat apa saya malu
Wow...jawaban sederhana yang membuat saya langsung tak berkutik sama sekali untuk berkomentar lebih lanjut. Benar benar saya skakmat saat itu. Sial batin saya, malah saya yang merasa malu dan menyesal karena telah melontarkan pertanyaan tersebut.
Sebenarnya ada dua hal yang bisa kita artikan dari jawaban tersebut. Pertama orang tersebut terpaksa untuk mengambil pekerjaan tersebut, karena di desak kebutuhan ekonomi. Dan yang kedua karena itu adalah bidang dia untuk menyalurkan kemampuannya. Entah kemungkinan pertama atau kedua atau malah keduanya yang melatarbelakangi pria tersebut memutuskan bekerja di sebuah salon. Namun alasan kedualah yang kemudian menggugah saya untuk menuliskan artikel ini. Yah alasan bekerja untuk menyalurkan kemampuan yang dimilikinya.
Allah menciptakan manusia indah adanya. Dalam injil pun dikatakan Allah menciptakan manusia menurut citraNya. Setiap dari kita dilahirkan dengan dibekali potensi masing-masing. Setiap orang punya keunikan masing-masing. Dimana potensi yang dimiliki seseorang belum tentu juga dimiliki oleh orang lain. Dan sudah selayak dan sepantasnya kita menggunakan dan mengembangkan apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kita. Karena kita masing-masing telah dibekali akal pikiran dan budi, maka cara manusia untuk mengembangkan potensi yang ada pun juga berbeda-beda.
Sewajarnya setiap orang bisa dikatakan sebagai manusia unggul jika telah mengembangkan potensinya. Dia bisa mengaktualisasikan dirinya lewat apa yang dimilikinya dan mengembangkannya. Celakanya tidak semua orang berbuat demikian. Terkadang karena takut dinilai yang aneh, nyleneh, atau tak wajar dan akhirnya mereka menyia-nyiakan potensi dan kesempatan yang ada. Mereka seakan lebih takut dikomentari ”APA KATA DUNIA?” yang mempunyai konotasi penilaian negatif dari orang sekitar.
Sebut saja bagi para pria yang bergelut di dunia fashion design, hair stylist banyak dari mereka awalnya mendapatkan cibiran karena berkaitan dengan profesinya. Namun tak sedikit pula yang bebal akan cibiran tersebut dan memilih untuk mengembangkan bakatnya.
Terkadang penilaian orang sekitarlah yang menghambat kita untuk maju. ”APA KATA DUNIA” lah yang paling sering di jadikan pertimbangan seseorang untuk melakukan sesuatu dibandingkan ”APA KATA DIRIKU”. ”APA KATA DUNIA” seakan dijadikan patokan bahwa kita telah melakukan tindakan yang benar. Apakah Anda sependapat?! Yah itu kembali kepada Anda masing-masing.
Bagi saya tak ada salahnya kita mendengar ”APA KATA DIRIKU”. Terkadang hal yang nyleneh yang mengawali kita menjadi orang yang sukses. Karena dari hal yang dianggap nyleneh itu kita termotivasi untuk membuktikan bahwa sesuatu yang nyleneh tak selamanya buruk. Asalkan kenylenehan kita tidak melanggar nilai moral dan tata perilaku di masyarakat kita.
Akhir kata selamat bagi Anda yang merasa dirinya nyleneh, karena itu adalah awal kesuksesan Anda. Kembangkan itu dan buatlah dunia tak lagi sanggup berkata ” APA KATA DUNIA?!”.


Minggu, 7 Mei 2011

Selasa, 26 April 2011

PANGGILAN
Oleh Wenny Rosalia Kusumawardani
       
Akhir-akhir ini, hidup yang kemarin serasa ayem tentrem sempat terusik oleh sesuatu. Yah ketika pulang ke kampung, orang tua (Mama.red) sempat berkata ”Dik, ndak pingin cari pandangan lain? Masak cuma gini-gini aja”. Lhah berarti beliau melihat apa yang menjadi profesi saya saat ini kurang ”pas”. Walah.... Dan usut punya usut, dasar beliau berkata demikian karena saya pernah mengatakan bahwa jangan berpikir kalau di tempat saya bekerja itu sudah ”enak”.
        Sempat Mama kembali mengungkit tawaran perusahaan rokok dan lowongan kerja di bank sebagai alternatif pilihan, dimana secara finansial memang lebih menjanjikan. Namun bujukan Mama masih belum membuat saya berbalik arah. Jika saya refleksikan kembali, sebagai orang tua sangat sangat wajarlah jika menginginkan anaknya hidup enak, dalam hal ini temasuk bekerja di tempat yang enak pula. Dan memang Mama mengaku sempat khawatir ketika saya berkata sebaliknya. Dimana gajinya terhitung masih kecil (jauh di bawah orang awam mengira jika dibanding dengan nama besar tempat saya bekerja), juga masalah kesempatan untuk berkembang masih terlalu kecil. Isu ini bisa diangkat menjadi topik utama di tempat saya bekerja sebenarnya jika mau. Dan inilah yang kemudian terjadi.
Ngomong-ngomog masalah keenakan, kenyamanan, memang sih banyak orang mengira tempat kerja saya sekarang ini sudah enak, dan bisa membuat saya krasan. Hal tersebut karena nama besar yang telah di sandang oleh tempat saya mengabdi. Dan biasa lah rumput tetangga pasti terlihat lebih hijau. Padahal sebenarnya mungkin sama saja. Setiap tempat kerja pasti punya kesulitan dan hambatan sendiri-sendiri. Inilah senjata yang saya gunakan untuk membuat diri saya lebih tenang.
        Tapi bukan ini yang ingin saya bahas lebih lanjut, namun masalah alasan di balik profesi yang saya pilih.
         Sebenarnya tidak pernah terbayang sama sekali saya akan menjadi seorang guru. Tidak pernah ada pikiran ketika masih kecil atau ketika remaja bakal menggeluti profesi ini. Bahkan dari silsilah keluarga pun (keluarga sedarah) tidak ada yang menjadi guru. Keinginan ini datang begitu saja, ketika kuliah saya mulai menggeluti dunia pendidikan, kemudian dari sana saya belajar untuk membagikan ilmu kepada orang lain, dan alhasil ada ”sesuatu” yang saya dapatkan yang tak pernah saya rasakan sebelumnya. Inilah yang pada akhirnya saya yakini sebagai sebuah PANGGILAN.
        Layaknya perikop dalam kitab suci ”Bukanlah kamu yang memilih Ku, Namun Aku yang memilih mu”. Berbekal ayat tersebut, sampai saat ini saya bangga karena menjadi yang terpilih untuk menjadi seseorang yang digugu lan ditiru (akronim dalam bahasa jawa dari GuRu.red). Di mana benih panggilan profesi ini kian hari pun makin menyusut dalam hal kuantitas dan kualitasnya.
        Panggilan ini kian lama kian terpupuk setelah saya menjalani tahun kedua saya di tempat saya mengabdi sekarang ini. Bukan sesuatu yang mudah dan otomatis terbentuk keyakinan akan panggilan ini. Proses tetap saya alami. Enak tidak enaknya profesi ini sudah saya alami sedikit demi sedikit. Bahkan sempat saya menangisi kebimbangan saya akan keyakinan pada panggilan profesi saya ini. Namun entah mengapa saya sampai saat ini makin mencintainya. Dan itulah yang menguatkan saya, selain dukungan positif dari rekan sejawat dan orang-orang di sekitar saya.
        Bagi saya, melalui profesi inilah saya bisa memberikan diri saya seutuhnya. Melalui profesi ini saya merasakan yang namanya bekerja dan berkarya. Itulah yang bisa saya lakukan sebagai bentuk ”balas budi” akan berkat yang telah saya rasakan di masa pendewasaan saya. Mukzijat yang luar biasa yang tidak akan pernah terjadi kalau bukan Tuhan sendiri yang berkarya.
        Untuk masalah gaji atau kesempatan mungkin memang belum waktunya, atau saya memang belum pantas untuk mendapatkannya. Namun walaupun begitu saya masih percaya Tuhan mencukupi kebutuhan saya. Inilah wujud keteguhan saya terhadap doa Bapa Kami, yang setidaknya pasti saya doakan setiap minggunya di gereja.
        Sampai dengan detik ini ketika saya menulis ini, bagaimana pun juga saya masih mendoakan panggilan saya. Semoga Tuhan berkenan memberikan petunjuk dan menguatkan serta meneguhkan. Apakah Tuhan mengharapkan saya tetap menjadi guru bagi anak-anaknya, apakah saya akan masih tetap bekerja dan berkarya seterusnya di tempat saya mengabdi sekarang ini, atau pada akhirnya beberapa tahun kemudian saya berada di tempat lain dengan profesi yang berbeda. Hanya Tuhan yang tahu.
        Semoga Anda sekalian juga telah menemukan panggilan Anda sendiri dalam berbagai bentuknya. Tuhan Memberkati.


Rabu, 27 April 2011
PERLUKAH MASA LALU KITA BICARAKAN?
Oleh Wenny Rosalia Kusumawardani

Perlu. Itu jawaban dariku.
Bukan hanya sekedar iseng atau tanpa tujuan. Karena itu penting untukku. Aku ingin tahu bagaimana kamu di masa yang lalu. Agar ku mengenal kamu lebih dalam.
Sakit. Itu resiko yang harus ku terima. Sedih. Semoga itu kurasakan sementara waktu. Dan ternyata itu memang yang kurasakan kemarin. Masa lalu mu yang berkesan ternyata menggangguku pula.
Yang menjadi berat untukku ternyata apa yang telah kamu lewati, itu bertentangan dengan prinsipku. Membayangkanmu melakukannya sebenarnya membuatku sedih dan sakit. Tapi ku kembali pada tujuanku. Aku harus terima ini. Aku pulalah yang memintamu untuk menceritakannya. Huft.
Semua bukan salahmu, jika ada yang berubah dari sikapku kemarin. Kamu pun tak perlu meminta maaf seperti itu, karena aku tak berhak menyalahkanmu. Aku pun bukan seorang suci yang akan menghakimimu. Aku yang harusnya meminta maaf.
Biarkan sementara ini aku mengambil waktu sejenak. Yah untuk sekedar menenangkan diri. Aku harus bisa menerima mu. Aku memutuskan hidup denganmu. Maka aku harus menerima masa lalu mu juga. Semua proses. Proses butuh waktu juga.
Namun satu hal dari pembicaraan itu, ku masih bisa bersyukur. Ku makin tahu diriku. Dan ku makin tahu dirimu. Sakit dan sedih itu pun sebenarnya berakar dari rasa ku yang mendalam. Dan ketika itu semua terjadi kusadari aku takut. Malam itu kamu pun juga takut.
Semua kembali ke kita berdua. Masa lalu boleh kita kenang dan belajar darinya, namun jangan sampai itu mendikte kehidupan kita sekarang. Itu janjiku ke kamu, dan kuharap itu janjimu pula ke diriku.

Selasa, 05 April 2011
                                                                
   
URIP MUNG MAMPIR NGOMBE
Sebuah Dilema Seorang Manusia dalam Menikmati Air Kebahagiaan
Oleh Wenny Rosalia Kusumawardani


        Pernahkah Anda mendengar wejangan dari orang tua kita urip ing donya iku mung mampir ngombe (Hidup di dunia ini seperti orang yang mampir untuk minum). Mengapa ada falsafah Jawa yang mengatakan demikian? Jawabannya karena hidup kita ini bisa dikatakan singkat, jawaban yang klise namun benar apa adanya.
Kita tak kan pernah tahu kapan kita akan tutup usia. Saya yakin anda sekalian pernah mendapat kabar duka (kematian.red) yang tiba-tiba dan tak pernah menyangka hal tersebut akan terjadi. Dan tak akan ada yang menyangka pula, bahkan diri kita sekalipun, kapan kematian akan menghampiri kita. Tak ada yang bisa memastikannya, paranormal sehebat apapun tak kan sanggup melakukan ini. Sekali lagi dikatakan singkat karena kita tidak tahu kapan kita akan mengalami kematian itu. Itu yang membuat waktu kita terbatasi dan serasa singkat.
        Lalu apa maksud dari wejangan tersebut? Sebenar-benarnya kalau kita mau mencerna sedalam-dalamnya kata-kata tersebut, ada hal tersembunyi selain hanya mengingatkan bahwa deadline kita hidup itu singkat. Tak lain adalah apa yang bisa kita lakukan dalam hidup kita yang singkat ini.
        Dalam hidup pasti ada pilihan. Begitu pun apa yang akan kita lakukan dalam hidup kita pun kembali pada pilihan kita masing-masing. Pasti akan banyak versi jawaban yang terlontar. Ada yang mungkin menjawab ”Saya ingin meraih semua impian-impian saya, pangkat tinggi, ekonomi berkelimpahan, banyak anak, mobil mewah, rumah besar...” Atau ada yang dengan yakinnya mengatakan ”Hidup saya mengalir saja seperti aliran air”
        Anggap saja jawaban itu terbagi menjadi dua pihak. Pasti kedua pihak itu akan saling menyalahkan dan menilai hidupnya satu sama lain. Inilah yang ada akhirnya menimbulkan sebuah dilema bagi seorang manusia dalam rangka mengisi hidupnya.
Kita tak bisa menyalahkan kedua pernyataan di atas. Karena kedua pernyataan tak ada yang benar maupun yang salah. Semua berawal dari sudut pandang kita masing-masing. Bisa saja orang akan mengambil sisi negatif dari pernyataan pertama dengan mengatakan, hidup penuh ambisi dan terlalu ngoyo. Demikian juga pernyataan kedua sisi negatifnya bisa dikatakan sebagai hidup yang tak bertujuan dan tidak ada arahnya. Sekali lagi semua kembali kepada diri kita masing-masing. Kita semua berhak atas hidup kita masing-masing, dan tak ada yang berhak mengaturnya, kecuali Sang Khalik Sang Pemberi Hidup.
Lalu apa yang harus kita lakukan dengan hidup kita jika tidak ada yang benar dan salah? Yang bisa menghantarkan kita pada jawaban tersebut adalah dengan menjawab pertanyaan berikutnya, yaitu ”apa yang sebenarnya kita cari dan ingin rasakan dalam hidup?”
        Pasti akan kembali banyak versi jawaban. Namun saya yakin tak ada yang tak menginginkan satu hal ini. Ya BAHAGIA. Apa pun yang diinginkan pasti ujung-ujungnya karena ingin bahagia. Inilah hal yang paling hakiki di cari manusia. Namun cara minum dan jenis minumanya yang berbeda-beda setiap orang. Percayalah tak ada rumus yang pasti untuk menjadikan diri Anda bisa mengecap air kebahagiaan.
        Dan jika diri Anda merasa pernyataan pertama atau kedua yang paling mendekati diri Anda, itu sah-sah saja. Asalkan air kebahagian itulah yang akan Anda nikmati pada akhirnya.
        Carilah bahagia itu dengan jalan Anda masing-masing. Karena ini hidup Anda, maka Anda pulalah yang mengatur strateginya dan apa yang ingin Anda minum. Jangan pernah bimbang untuk mencari kebahagiaan versi Anda. Terlalu lama Anda menimbang, makin singkat waktu Anda untuk minum air kebahagiaan. Dan belum tentu cara minum dan jenis minuman orang lain bisa kita terapkan untuk diri kita, karena lidah kita pun berbeda.  
Akhir dari tulisan ini pun pada akhirnya akan mengajak Anda berpikir kembali. Sudahkah Anda menikmati Air kebahagiaan dalam hidup  Anda?

28032011